Senin, 22 Februari 2016

Jalan Berliku Menuju Bukit Langit

View Timur Bukit Langit
Beberapa bulan terakhir ini para abege Kebumen ramai-ramai membahas sebuah bukit yang memiliki panorama indah dari puncaknya. Di puncaknya dapat terlihat kabut-kabut serta pegunungan yang sedap dipandang mata. Termasuk saya yang penasaran dengan bukit yang satu ini. Adalah Bukit Langit di Dusun Kembangabang Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Entah itu nama asli/ lokal atau bukan tapi saya tidak menemukan nama itu di peta geologi pada umumnya. Bukit ini berada diketinggian sekitar 360 meter diatas permukaan air laut gaess.

Saya memulai perjalanan tentu dari rumah saya di Alian bersama Roni, saudara saya. Kami melewati ruas jalan Nasional III hingga masuk ke Jl. Ampera Kecamatan Karanganyar atau timur Stasiun KA Karanganyar. Dari sini perjalanan sekira 8 kilometer kearah utara. Ini rute yang kami tempuh hingga sampai ke Dusun Kembangabang (ikuti garis biru), just click Rute ke Bukit Langit yang saya ingat saya melewati simpang lima Candi terus belok ke kiri mengikuti jalan lurus sekira 500 meter dan ada pertigaan dekat Sungai Karanganyar dan saluran irigasi. Ambil jalan ke kanan atau ke jalan menanjak hingga 1 kilometer. Kalian harus hati-hati karena jalan juga berliku serta sempit. 

Memandang Desa Kajoran
Jika kalian pernah ke Pantai Menganti ya jalannya mirip-mirip begitulah namun pemandangan juga sama, gak kalah keren akrena kita akan disuguhi pemandangan sawah sawah dan hutan warga. Meski belum sampai ke tujuan pemandangan sudah sangat amazing yakni dataran rendah Kebumen, utamanya Karanganyar dan Sruweng bahkan garis Samudera Hindia akan nampak jelas. What a view! Setelah menanjak atau dibawah Bukit Buthak perjalanan kemudian menurun gaes tapi cuma sebentar >_< kemudian mulai menanjak lagi. Selain itu jalan cornya mulai rusak/ kasa/ bregul bregul apalagi selepas hujan. Kemudian ada jalan menurun lagi serta melewati jembatan Sungai Gede. Kalian harus lurus saja menuju Dusun Kembangabang.

Buanglah sampah pada tempatnya
Jalan masih saja berliku melewati perkampungan, iya tenang saja selama perjalanan ke Bukit Langit akan sering melewati perkampung/ tengah-tengah rumah waarga. Nah dari sini sudah ada petunjuk jalan berupa papan anak panah disetiap persimpangan jalan ke Bukit Langit, jadi lebih mudah. Dan tanjakan terakhir membuat saya ngeri karena cukup panjang serta licin sehabis hujan. Alhasil saya putuskan untuk jalan kaki dan membiarkan Roni ngegas keatas. Eh ternyata tepat diatas sanalah tempat parkir menuju Bukit Langit. Yap, kami sampai, di tempat parkir! Disana ada rumah yang halamannya digunakan untuk tempat parkir. Ada warung juga yang menjual makanan ringan serta minuman segar untuk kalian yang kelaparan.

Dari tempat parkir kami kemudian berjlanan kaki sekira 600 meter melewati kebun serta sawah warga. Namun sebelum berangkat harus mengisi Buku Hadir dulu gaes. Keren kan kaya mau naik gunung beribu de pe el kan. Setelah mengisi buku hadir yang berisi nama, alamat serta nomor telefon kami bergegas menuju arah Bukit Langit. Karena sehabis hujan jalanan tanah dan batu menjadi becek serta licin. Beberapa kali bertemu dengan warga setempat yang amat sangat ramah. Kentara sekali mereka sudah terbiasa dengan keberadaan wisatawan disekitarnya. Cukup melelahkan dan bermandikan keringat untuk sampah dibawah Bukit Langit. Sesampainya diatas ada sebuah gazebo berisikan dua insan manusia beda jenis kelamin. Disekelilingnya ada banyak warga yang mencari rumput untuk ternak mereka, mayoritas ibu-ibu setrong.

Bukit Langit

Bukit Buthak di sisi barat
Disini juga sudah nampak pohon pinus berjajar serta pohon padi disela-selanya. Mata air yang meluber kemana mana menambah licin jalan. Lahan disini berundak tapi sangat rapi berbeda dengan tegalan hutan pada umumnya. Kemungkinan dulunya disini adalah sawah. Namun kini berubah menjadi lahan biasa yang ditanami rumput. Hal ini juga ynag bisa digunakan untuk membuat gazebo-gazebo cantik seperti di Pantai Menganti. Dan akhirnya kami sampai diatas Bukit Langit. Jreeeeeeeeng! Tak nampak pemandangan apa apa karena tertutup kabut setelah hujan, padahal kami kesana jam 12.00 WIB. Sembari menunggu langit sedikit cerah, lambat laun kabut bergerak naik dari bawah/ lembah.

Kabut yang bergerak naik  terlihat sangat dramatis. Suer deh! Sayup layer pegunungan serayu selatan mulai nampak sekarang dan wow! Pemandangan nya indah! Dibawah nampah lembah yang tak lain adalah Desa Kajoran dengan sawahnya yang hijau serta perumahan penduduk. Selain itu suara gemerujug aliran Sungai Padureksa yang membelah desa itu juga terdengar. Dibelakangnya ada sisi timur Perbukitan Padureksa yang memanjang barat ke timur. Disisi timur pelan menampakan diri sebuah bukit yang cukup menjulang, adalah Bukit Condong serta Bukit Penusupan dan Bukit Caplang dibawahnya. Disisi barat ada Bukit Buthak, dan dikejauhan nampak secuil genangan air Waduk Sempor. Jika kalian datang pagi hari dengan cuaca cerah makan akan terlihat Gunung Slamet di arah barat dan Sindoro-Sumbing di timur.

Dataran rendah Kebumen serta garis pantai selatan
Setelah kabut pergi kami memutuskan untuk mengambil gambar. Terdapat sebuah gazebo atau saung diatas sini sehingga bisa untuk mengaso. Yang keren itu disetiap sudutnya adalh tempat sampah. Ini keren banget gaes, sumpah. Puas di atas puncak yang datar itu saya ingin mengambil gambar dari dataran lebih tinggi disisi barat. Sudah disediakan jalan untuk mendaki serta sebuah tali untuk berpegangan. pemandan makin indah karena view Bukit Langit semakin full terlihat. Setelah puas mengabadikan moment kami memutuskan untuk turun dan pulang. Tidak ada uang tiket masuk, hanya sebuah kotak bertuliskan ''Seiikhlasnya''. Perjalanan panjang ke Bukit Langit pun berakhir, saya sangat suka tempat itu karena pemandangannya indah. Beberapa yang ingin saya beri saran adalah soal kondisi jalan yang rusak untuk diperbaiki/ diperhalus. Lalu soal petunjuk jalan sebaiknya ditambah jauh sebelum sampai di Dusun Kembangabang. Oke gaess, sudah dulu :D

Rabu, 17 Februari 2016

Curug Wringin Kebumen dan Tiga Pemandu Kecil

Curug Wringin
Hiii serem, ngeri, takut, gak berani! Begitu kiranya kata-kata yang dilontarkan salah satu temen saya saat bercerita tentang Curug Wringin yang terletak di Dusun Era Gemiwang Desa Pujotirto Kecamatan Karangsambung. Apalagi sejak kejadian salah satu warga yang tewas tenggelam di Curug tersebut beberapa waktu lalu. Pbehhhhh tampah angker lah dipandangan orang-orang. Hingga akhirnya saya tambah penasaran seperti apa sih aura Curug Wringin sehingga dijuluki air terjun angker? Pukul 10.30 WIB saya berangkat dari rumah bersama Wulan dan Yoga. Cuaca saat itu berawan namun tetap panas vetar membahenol.

Rute:

Dari Kalirancang/ Kota Kebumen ambil arah ke PAP Krakal lanjut ke Pasar Indrakila Krakal. Lalu ke utara hingga menemui SD, Jembatan dan Masjid Jerotengah. Beberapa meter kedepan terdapat sebuah pertigaan. Kamu harus ambil jalur kanan atau lurus yak! Kalau kamu ambil kiri nanti kamu ke Wadasmalang/ Plumbon. Nah setelah lurus, ya kamu harus lurus saja terus mengikuti jalan raya tersebut.


Sekira 1 kilometer akan melewati perkampungan dengan jalan (tak begitu) menanjak, 1 kilometer lagi akan disambut hutan kanan kiri jalan, lalu akan menemui perkampungan lagi yakni Dusun Era Siwaru. Bukan, bukan itu tempatnya jadi kamu harus lurus lagi hingga menemui sebuah perkampungan yang lumayan ramai dengan perempatan jalan. Lurus saja, dan beberapa puluh meter maka akan menemui sebuah rumah berkeramik dinding biru di sisi kanan jalan. Parkirkan kendaraanmu disini lur. Rute jelas buka via google map berikut ini, ikuti hingga garis biru terputus. Saya bikinkan mulai dari Alun-alun Kebumen hingga tempat parkir curug. Klik disini: Rute ke Curug Wringin

Tempat parkir Curug Wringin
Karena saya, Wulan, dan Yoga (Kami) baru pertama kali ke Curug ini jadi kami kebablasan beberapa meter. Saya yang pegang google map sudah yakin sekali perjalanan harus berakhir disini. Benar saja saat saya bertanya ke rumah paling ujung berkeramik dinding biru itu ternyata disitu tempat parkirnya. Dan ternyata juga sudah ada papan petunjuk bahwa disitu tempat parkir wkwkwkkwk (#butamendadak). Setelah memarkirkan sepeda motor kami bertanya dua mas-mas diteras rumah tersebut yang sedang membersihkan Jenitri untuk dimana Curugnya.

Saya: Mas, curugnya masih jauh?
Masnya: Masih mas, sudah tau belum jalannya?
Saya: Belum
Masnya: #mukabingung

Disaat kami teng teng kebingungan tak jauh dari kami terdapat tiga gadis tanggung yang kebetulan mau ke sekitar Curug Wringin. Si mas yang tadi pun memanggil dan menyuruh untuk sekaligus memandu kami kesana. Beruntung sekali kami bisa dapat pemandu hahahhahaha. Lalu kami jalan kaki sebentar di jalan raya llau belok ke kanan melewati saluran air kecil yang punya air aduhai adem, segar, dan bening. Jalan menanjak bersetapak itu berada di kaki Bukit Watulawang atau warga sekitar bilang Gunung Kepala. Tak lama bertemu dengan sekelompok ibu-ibu sedang menggendong jagung hasil panen. Tiba-tiba pemandu kecil kami ditahan olehnya serta mereka seperti berbicara/ berbisik dengan raut wajah marah/ tak suka.

Bukit Tumpeng
Saya dalam hati juga merasa kalau pasti si Ibu ini tidak ingin pemandu kami mengantarkan ke curug karena sangat riskan. Curug Wringin memanglah dianggap sangat angker oleh warga sekitar. Namun karena ngeyel atau apa pemandu kami terus saja melanjutkan perjalanan dan kami yang bertemu dengan si Ibu tadi hanya saling memandang senyum tanpa kata. Perjalanan mulai datar dan melintasi persawahan yang hijauuuuuuuuuu. Buset deh indah sekali pemandangan dari sini karena di kejauhan sebelah timur ada Bukit Tumpeng. Lalu kami melewati kebun warga, sawah lagi, kebun dan hutan. Selama perjalanan kami bertemu dengan warga yang sedang beraktivitas. Semuanya sedang memanen Jagung. Bagi yang suka dunia geologi juga dapat menemui bongkahan batu pasir karbonat yg cukup besar dan rapi.

Keanehan

Perjalanan kami lanjutkan dengan trek turun namun tak terjal sehingga mudah dilalui. Namun semakin kami mendekati curug cuaca mendung tiba-tiba mengiringi. Suasana menjadi lebih gelap dan angin bertiup sepoi. Ditengah hutan nan sunyi kami menyusuri tegalan. Sesekali Wulan bertanya ke pemandu kecil berapa jauh lagi curugnya karena hari sudah mau hujan. Setelah setengah perjalanan terdengar gemuruh hebat yang kami kira hujan lebat datang. Namun para pemandu kecil kami bilang itu hanya angin. Benar saja, itu angin yang mengantarkan mendung di langit. Semakin dekat dengan curug sekain mendung datang menghantui kami. Para pemandu kecil tetap semangat berjalan sementara Wulan dan Yoga mulai tidak yakin dan ingin memutuskan untuk kembali saja.

Terima Kasih Yoga dan Wulan
Namun, pemandu kecil meyakinkan Wulan kalau curug sudah dekat beberapa meter lagi. Lalu kami meneruskan perjalanan dan menemukan air terjun kecil. Kami melewati air terjun tersebut dan menemukan papan ucapan Selamat Datang di Curug Wringin disalah satu sudut. Lokasinya seperti akan ditata namun terbengkalai. Lalu tiba-tiba pemandu kecil berhenti mendadak lalu duduk.

Saya: Loh dek kok berhenti? Dimana curugnya?
Pemandu: Dibawah sana?
Saya: Ayo turun. Ini lewat mana?
Pemandu: Saya disini saja lah. Takut.

Karean cuaca yang makin gelap saya tak pikir pusing memikirkan ketiga pemandu itu. Saya nekat saja menuruni jalan terjal, dan licin tersebut hingga sampai dibwah air terjun. Wulan dan Yoga masih bertahan diatas bersama pemandu. Akhirnya saya bisa melihat Curug Wringin. Lagi lagi cuaca membuat saya bergegas mendekati curug untuk mengambil foto serta video. Lalu Wulan dan Yoga menyusul kebawah. Kami berfoto2 seperlunya karena cuaca sudah sangat tidak mendukung. Kami juga takut ada air bah kalau-kalau dihulu sudah hujan. Benar saja! Hujan turun dan kami berlarian tunggang langgang naik. Kami lanngsung memutuskan pulang karena hujan. Tetiba para pemdu kami bilang bahwa mereka tidak bisa mengantar kami pulang.

Saya: Lah adek mau kemana kok tidak ikut pulang?
Pemandu: Mau ke Puncak Kempyung mas
Saya: Yakin?
Pemandu: Iya mas.

Wulan memandang Curug Wringin
Dengan rasa was-was saya sebagai yang tertua disitu meyakinkan para pemandu yang maish kecil bisa ditinggal ditengah hutan seperti itu. Setelah yakin kami bergegas menjauhi mereka karena cuaca masih hujan. Ditengah jalan kami bertemu tiga oran warga, Bapak-Ibu dan Cucu yang habis panen jagung mau pulang. Dia bertanya ramah kepada kami dan sempet mengobrol soal kejadian tewasnya pengunjung di Curug Wringin. Selain itu mereka terheran-heran dengan pengunjung bukan kami saja tapi semua yang rela bersusah ke Curug Wringin. Ya bagi banyak warga sekitar Curug, curug dianggapa hal biasa yang tak ada istimewanya. Iya kan? Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang dan keanehan terjadi lagi semakin kami menjauhi curug cuaca tiba-tiba hujan berhenti, awan mendung seolah hilang. Semakin jauh lagi, sinar matahari semakin terasa di kulit kami. Sebel juga kenapa tidak cerah saja terus wkwkkwkwk. Beruntung saya hafal jalan pulang dan kembali bertemu dengan ibu-ibu yang kami temui saat berangkat tadi.

Ibu: Loh mas, bocah yang tadi kemana?
Saya: Itu bu dia gak mau pulang. Katanya mau ke Kempyung
Ibu: Bocah kenthir (Gila) #sambilkayamarahgitu

Lalu sambil berjalan si Ibu bertanya kepada kami soal kejadian tewasnya pengunjung disana. Saya menjawab bahwa saya tau. Saya juga menjelaskan tak ada efek apapun ke saya soal kejadian tersebut. Menurut saya itu adalah murni kecelakaan air. Kemudian si Ibu perpesan agar hati-hati dan jangan mandi di Curug tersebut. Kami pun senang dan mengiyakan pesan si Ibu. Lalu kami kembali ke tepi jalan raya untuk membersihkan kaki dan sandal dari tanah liat yang menempel. Kemudian saya bergegas menuju parkiran. Saat mau pulang kami tidak diharuskan membayar parkir, wah senangnya (padahal cuma Rp. 2.000). Cuaca kini cerah namun masih ada rintik hujan yang sesekali jatuh menemani saya turun dari Era Gemiwang ke Krakal.

Soal Curug

Dari yang takut jadi senang, Wulan.
Curug Wringin ketinggiannya sekitar 20 meter dengan aliran tunggal. Formasinya lumayan tegak lurus tapi rada menyerong ke kiri. Airnya deras dan sangat jernih. Saking jernihnya kolam/ kedung dibawahnya berwarna hijau kebiruan. Diseklilingnya banyak pepohonan terutama bambu jadi sangat teduh, dingin, dan beraura mistis. Mungkin karena hal tersebut juga yang menjadikan curug ini jadi kaya angker begitu. Kedungnya katanya punya kedalaman hingga 6 meter. Percaya saja sih karena terlihat tenang dan biru. Dibawahnya ada beberapa curug kecil juga. Secara keseluruhan curug ini bagus bangeeeeeeeeeeeeeeeeet.

Karena capek, kami memutuskan untuk marung di Bakso Parji yang beada tepat didepan/ kios Pasar Krakal. Saya memesan Bakso kosongan dan segelas es campur. Buat kalian yang habis ke Curug Wringin, Ganden, Silancur, Plumbon, PAP Krakal, Sindaro harus mampir kesini. Bakso Parji adalah bakso legendaris yang dimiliki Alian. Setelah makan selesai saya membuka hape untuk melihat hasil foto serta video di Curug tadi. Jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng! Video yang saya yakinkan tadi merekam lebih dari 2 menit dan terdiri dari beberapa rekaman tak bisa dibuka. Semua berubah hanya menjadi dua detik saja. Bebarapa gambar hanya hitam tak nampak air terjunnya. Sedih dan marah rasanya T_T. Saya pun ngedumel sendiiri akhirnya pengen kembali lagi kesana apalagi itu hari hari terakhir saya di Kebumen. Dan akhirnya saya tidak kembali, arghhhhhhhhhhh.

Setelah kami sampai rumah kami baru terpikirkan bahwa kami sebenarnya ke Curug Wringin tepat pukul 12.00 WIB atau saat Dhuhur. Hmmmm pantas saja terjadi beberapa keanehan yang menimpa kami. Buat kalian yang ingin kesana usahakan datang di waktu yang panjang mulai dari jam 08.00 WIB s/d 11.00 WIB atau jam 13.00 WIB s/d 16.00 WIB. Dan tentunya juga harus melihat cuaca jarena sangat riskan jika mengunjungi Curug Wringin saat hujan atau mendung tebal selain suasana yang redup/ gelap/ mencekam pastinya rawan banjir air bah serta longsor. Okelah tapi overall seneng bisa liat Curug Wringin coy. Kalian harus kesana tapi ingat jnagan mandi. Oke! Sudah dulu lur coy gaessss.............


Minggu, 14 Februari 2016

Akhirnya! Curug Kedungsentul Terjamah

Bagian bawah foto itu umbukan sampah
Mumpung, mumpung, mum pung balik ke Kebumen saya sempatkan untuk mengunjungi curug terlebih saat musim hujan. Banyak sekali curug musiman yang melimpahkan air, memperindah diri, bersolek merayu para penjelajah amatir macam saya. Setelah sebelumnya saya mengunjungi Curug Kaliterus yang belum banyak dikenal orang, kini saya akan mengenalkan satu curug lagi yang juga belum dikenal banyak orang.

Adalah Curug Kedungsentul. Sesuai dengan namanya, curug ini berada di Dusun Kedungsentul Desa Sidototo Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen. Secara umum berada dekat dengan perbatasan Desa Sidototo, Desa Rahayu dan Desa Kaligubuk!

Saya janjian dengan temen sekolah saya namanya UMI DWI ASTUTI yang lama tak berjumpa. Berangkat sekitar jam 13.45 dari Kalirancang (Alian) saya melewati Wonokromo-Waduk-Padureso-Sidototo. Saya ketemuan dengan Umi dan satu temannya di Balai Desa Sidototo.

Kalau dari arah Wonosobo di kanan jalan, dan sebaliknya kalau dari arah Prembun. Sesampainya didepan balai desa, terlihat Umi yang sedang asyik medhang disebuah warung kecil disampig balai desa.

Rute

Nah, petunjuk pertama yaitu Balai Desa Sidototo. Dari sini kamu masuk ke gang selatan balai desa laly ikuti jalan rapat beton ke arah barat. Tak lama kemudian ada percabangan jalan dekat sekolahan (saya lupa sekolahan apa itu). Disini kamu harus ambil kiri dan teruslah mengikuti jalan rapat beton dua jalur tersebut sampai terputus berganti tanah. STOP! Parkirkan kendaraan disini lalu kamu berjalan kaki turun ke arah sungai di sisi kiri/utara. Atau lebih gampangnya dengerrin suara gemerujug air terjunnya karena sudah sangat dekat. Lalu kamu harus menyebrangi bendungan/dam yang berada tepat diatas Curug.

Umi berpose nih
Lalu jalan lagi mendekati sebuah rumah tapi jangan sampai melewati rumah tersebut tapi kamu harus belok kiri sesaatnya. Tak sampah 20 langkah ada jalan kecil di sisi kiri kamu yang curam menuju jurang/ Curug. Nah kamu harus menuruni jalan curam tersebut dan akan sampai! Pokonya dari Balai desa sampai parkiran itu gak sampai 600 meter! Jangan lupa bawa helm dan konci stang kendaraan kamu biar aman. Rute jelasnya ikuti garis biru di google map ini, jangan nyeleweng kemana mana! Mulai dari Alun-alun Kebumen ya ;) Klik: Rute ke Curug Kedungsentul

Sebelum saya dan Umi dan temennya (kami) ke bawah kami sempat kebingungan mencari jalan turun karena nyaris tak ada jalan turun. Setelah kami mondar mandir di tepi jurang kaya orang mau bunuh diri akhirnya kami putuskan nekat lewat jalan kecil nan curam. Awalnya Umi yang terlebih dahulu untuk memastikan ada jalan dibawah sana. Lalu saya mengikutinya, sampai setengah perjalanan turun. Nah, giliran saya yang mencari jalan lagi, eh ternyata jalannya tertutup longsoran tanah dan batu. Mau tidak mau kami harus turun melewati sisa longsoran. Setalh itu kami disambut oleh rumpun-rumpun bambu serta rangting bekasnya yang berserakan disana.

Dan, akhirnya kami sampai di Curug Kedungsentul, yah! Akhirnya! Sekarang saya akan memdeskripsikan curugnya. Curug Kedungsentul tingginya sekira 20 meter dengan formasi tunggal tegak lurus jadi benar benar air terjun. Curug ini berada di aliran Sungai Kaligubug, yak aliran sungai yang mengalir dari perbukitan dekat Desa Paduresou dan melintasi Desa Kaligubuk. Sungai ini juga bisa kamu lihat kala melintas di jembatan pada ruas Sidototo-Wadaslintang lhoh. Di kanan curug terdapat tebing batu seperti breksi atau apalah yang terus meneteskan air bak stalaktit. Namun sayang Curug ini sangat kotor termasuk airnya yang selalu keruh.

Curug Kedungsentul
Dibawah curug terdapat kolam yang entah dalam atau tidak tapi nampaknya dalam mengingat tingginya curug. Diseliling kolam yang keruh tersebut banyaK tumpukan sampah rumah tangga yang terbawa arus sungai dan tak terus terbawa ke hilir. Ditambah ranting sisa pohon bambu yang saking banyaknya mengumbuk. Suasanya masih cukup alami, udara bersih dan segar. Deru air yang jatuh menimpa kolam dibawahnya menciptakan percikan air dan angin kemana mana sehingga akan ada fenomena hujan lokal melembabkan tumbuhan disekitarnya.

Baiknya tapi secara keseluruhan saya tidak menyesal blusukan ke Curug Kedungsentul. Harapannya sih, warga yang bertempat tinggal di sepanjang aliran Sungai Kaligubug agar tidak membuang sampah ke sungai. Apalagi sungai ini nantinya akan masuk ke Sungai Badegolan sebelum Waduk Pejengkolan. Ohya diatas sana ada Dam/ bendungan kecil untuk memanfaatkan airny bagi pertanian, dan perikanan. Selain itu terdapat ram pompa hidrulik bantuan Kodim 0709/ Kebumen dalam kegiatan TMMD Sengkuyung 2015 lalu. Sekian....

Jumat, 12 Februari 2016

Menengok Indahnya Curug Kaliterus

Full, tinggi loh
Selamat pagi kalian para pemburu keindahan. Kali ini saya akan berbagi cerita liburan saya ke Curug Kaliterus. Curug Kaliterus atau Curug Silangit Kaliterus berada di Dusun Kaliterus Desa Karanggayam Kecamatan Karanggayam. Perjalanan saya dimulai dari rumah (Kecamatan Alian) pastinya. Sebenarnya saya sudah dengar semriwing-semriwing soal curug yang satu ini dan berharap ada komunitas-komunitas petualang atau fotografi yang mengunjunginya eh tapi langka sekali. Akhirnya pas saya pulang kampung saya sempatkan ke curug ini meski Alian-Karanggayam cukup jauh. Buat Kebumen apa sih yang enggak dibela-belain #ciek 

Ohya mohon maaf sebelumnya kalau foto yang terpampang menggangu tidak sedap dipandang mata karena saya gak bisa cara foto yang baik dan benar sesuai peraturan perfotografian (bilang aja lokasinya sulit buat ambil foto full karena saking tingginya air terjun). Nah maka dari itu kalian yang suka jepret dengan teknik mahadewa bisa lah ya nanti di up ini curugnya.

Satu lagi soal curug ini adalah keterlibatan mahasiswa KKN salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) islam di Kebumen tahun ajaran 2015/2016 yang baik hati membuatkan petunjuk arah di tepi jalan raya Karanggayam-Karanganyar jadi pengunjung tidak akan kebingungan/ kebabalasan Terima kasih kakak-kakak ketjeh yang saya lupa itu dari PTS mana, kalau kalian merasa, coret-coretlah dibawah ya kak :D

Rute

Saya bersama saudara say, Roni, menunggangi sepeda motor menelusuri jalan nasional 3 ruas Kebumen - Karanganyar. Dari arah Kebumen Kota/ Sruweng/ Yogyakarta/ Purworejo sesaat sampai di pusat Kota Kecamatan Karanganyar akan menemui perempatan dengan papan petunjuk jalan dengan rincian lurus ke Jakarta atau belok kanan ke KARANGGAYAM. Nah, disitu saya ambil kanan atau menuju Jl. Ampera. Kemudian terdapat palang perlintasan KA di timur Stasiun Karanganyar. Setelah itu saya mengikuti jalan lurus dengan mengabaikan banyaknya perempatan nan ramai yang ada disana.

Hanya 8 menit dari Karanganyar broh!

Setelah itu saya melewati sebuah jembatan diatas Sungai Karanganyar, itu berarti saya memasuki Jl. Raya Karanganyar-Karanggayam. Saya mengikuti jalan satu-satunya itu hingga melewati Desa Plarangan Kecamatan Karanggayam (Mata harus rajin membaca/ melihat bangunan pemerintahan seperti Balai Desa). Tak lama setelah meneinggalkan Desa Palarangan saya menemukan sebuah petunjuk/ tulisan di kanan jalan berwarna hijau, dekat jembatan. Disana ada tulisan Curug Silangit Dukuh Kaliterus. Kalau bingung klik tautan rute berikut ini: Rute ke Curug Kaliterus dan saat kamu sampe ujung rute (garis biru habis) ini berarti kamu sudah harus berhenti atau kamu tepat ada di depan papan petunjuk di sebelah kanan dan dua rumah di sebelah kiri pas jalan (Rumah pak RT sekaligus buat warung) Kalau masih bingung (hmmmmm) kamu nampaknya harus tanya ke warga. Okey!

Saya kemudian turun dan bingung karena petunjuk tersebut menunjuk ke gang dengan jalan menanjak hebat di kiri jalan. Bingung, saya akhirnya bertanya kepada papa muda yg sedang menggendong anaknya di depan rumah dengan seoarang wanita (tetangga).

Saya: Permisi. Mbak Curugnya masih jauh tidak?
Mbaknya: Masih jauh mas
Saya: Ada sekilo tidak?
Mbaknya: Gak ada kok
Saya: Motor bisa naik keatas gak pak?
Papa Muda: Bisa, tapi licin mas.
Saya: Kalau nitip disini boleh gak pak kira kira?
Papa Muda: Boleh mas, sini saja

Dibawah air terjun, hati2 Licin bro
Kemudian saya menitipkan kendaraan di samping rumah di tepi jalan raya (depan rumah pak RT). Lalu saya berjalan kaki ke arah curug dengan medan menanjak namun kondisi bagus (jalan cor). Saya berajalan sekira 500 meter, 300 meter sebelum curug terdapat persimpangan. Kanan ke Purwosari, kiri ke Curug. Saya ambil kiri dan melintasi depan dua rumah warga palig terakhir sebelum masuk ke kebun-kebun. Dengan mengikuti jalan setapak saya mendengan gemerujug suara air. Tak pikir panjang saya langsung mengikuti jalan setapak yang ada sembari menuju sumber suara.

Jreng..... akhirnya saya bisa mengunjungi Curug Kaliterus. Curug ini saya ekspektasikan tidak tinggi namun setelah saya melihat dengan mata telanjang bulat saya ternayata tinggi sekira 30 meter. Formasinya apik karena air benar benar terjun bukan merayap di dinding batu. Airnya tidak terlalu deras sehingga bak air hujan kala sesaat menyentuh dasar. Dibawahnya tidak ada kolam hanya batuan yang sebagian sudah ambles. Uniknya tebing batu dibagian tengah cenderung menjorok ke dalam serta berwarna coklat kekuning kuningan. Disekelilingnya ditumbuhi tanaman yang hijau. Sungguh kombinasi yang sangat indah.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa
Meski lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk namun curug ini masih alami dan sunyi. Hanya ada suara gemerujug air dan gesekan pohon bambu yang ada disana. Segar airnya membuat siapa saja betah berlama lama di curug ini. Selain itu airnya bersih dan disekitar curug tak ditemui banyak sampah organik maupun rumah tangga. Pepohonan di sekitarnya nampak asri dan terjaga. Membuat teduh, sejuk suasana curug. Secara keseluruhan curug ini indah dan bikin ketagihan.

Curug Kaliterus ini berada di aliran sungai yang kecil. Bahkan sungai ini tak terdeteksi oleh google map. Sungai kecil ini berhulu di Bukit Tutukan serta hanya melewati persawahan dan beberapa rumah warga sehingg tak banyak sampah yang terbwa arus sungai. Namun karena memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sangat kecil maka curug ini hanya sedap dipandang saat musim penghujan saja, bahkan sesaat setelah hujan. Hal itu karena airnya yg akan melimpah berbeda saat kemarau yang akan kering kerontang. Oke gaes, begitulah sedikit cerita saya saat berkunjung ke Curug Kaliterus. Salam.....