Makam Sabda Guna terletak di Sub-dusun Kalisetra, Dusun Jerotengah, Desa Kalirancang Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Makam yang biasa disebut Makam Eyang Sabdo Guno, Stana Budha, Hastana Budha atau Istana Budha ini terletak diatas Bukit Sikenap (120 mdpl). Selain Makam Sabda Guna di Bukit Sikenap juga terdapat makam lainnya yang berjauhan. Total terdapat tiga blok makam yang terpisah-pisah.
Tidak banyak yang tahu asa usul pasti kapan makam ini dibangun bahkan sebagian besar warga sekitar. Ada sumber mengatakan di makam ini tertulis tahun 1115 M. Di Makam Sabda Guna terdiri dua bangunan permanen dan salah satunya berisi dua makam yang ditutupi kelambu. Terdapat juga sebuah mushola kecil dan tempat kemenyan dibakar yang terus menyala. Diantaranya terdapat sebuah plakat batu berukir bertuliskan:
"Dipugar pada hari Senin Kliwon 18 September 1995 22 Jumadil Awal 1416 H oleh Ibu Tresnowati dan diresmikan pada hari Jum'at Kliwon 17 November 1995 23 Rajab 1416 H oleh Pembantu Bupati KDHTK II wilayah Kebumen".
KDHTK II/ KDH Tk. II/ Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II merujuk pada jabatan pembantu di tingkat kabupaten/kotamadya yang lazim digunakan dalam konteks tata pemerintahan lama, seringkali berupa wakil bupati, staf ahli, atau pembantu gubernur/bupati yang diserahi tugas khusus oleh pemerintah daerah. Saat ini, peran pembantu utama bupati adalah Wakil Bupati dan Staf Ahli.
Ada sumber yang menyebutkan makam ini merupakan makam keluarga Ki Margodan. Sementara Pemdes Kalirancang menyebut makam ini merupakan makam Wiryadikrama, Sabda Guna, Sempu Kerep, dan Dewi Kusumaningrum. Siapa mereka? Apakah mereka yang dimaksud sumber lain yang menyebut keluarga Ki Margodan? dan makam disini adalah dua diantaranya? Saya belum menemukan informasi hubungan antar keduanya. Sehingga apabila ada yang ingin jelas mengetahuinya bisa menghubungi Juru Kunci makan yang dipercaya Pemdes.
Kembali ke masa lalu, bahkan setelah pemugaran 1995 sepengetahuan saya, makam ini dikelilingi pohon besar yang beberapa bertahan sampai saat ini, sehingga tempat ini tanpak teduh cenderung mistis. Pagar pondasi yang mengelilingi kompleks makam, pun makam yang ada disini menggunakan tumpukan batu-batu dari formasi penosogan-breksi halang yang berwarna putih namun kemudian menghitam karena lumut dan lainnya.
Saat ini makam tersebut terlihat lebih ramah dengan tampilan seperti rumah warga pada umumnya. Pagar makam berupa tembok dan besi. Cat dominan putih sehingga terlihat lebih terang. Meski beberapa sudah lapuk kembali karena minim perawatan.
![]() |
| Anak tangga ke Makam Sabda Guna |
Tak jauh dari tugu masuk menaiki anak tangga tersebut terdapat sebuah bangunan sebut saja 'paviliun' yang nampak seperti makam. Tempat tersebut belum lama ini juga ikut dipugar karena bagunannya yang dulu berupa masih bangunan kayu nyaris habis terbakar seiring maraknya pembakaran hutan saat itu.
Bagi warga sekitar makam ini dikenal angker sehingga tidak banyak warga yang beraktivitas di sekitar makam meskipun memiliki lahan pertanian/ tegalan di sekitarnya. Meskipun berada di wilayahnya, cukup menarik karena warga tidak pernah melakukan apa yang orang-orang dari luar daerah itu lakukan. Kini kita berbicara tentang mitos turun temurun dari sudut pandang warga sekitar.
Mitos yang berkembang diantaranya sebagin warga ada yang berpendapat bahwa makan ini memiliki penunggu yaitu sosok laki-laki tua dan kuda. Kuda? Ya, konon suara kuda sesekali terdengar di sekitar makam ini. Dan warga akhirnya menghubungkan dengan masa zaman hidup dimasa kerajaan, dimana kuda sebagai sebuah kendaraan. Dan kuda yang dimaksud merupakan milik penunggu makam ini.
Berikutnya tentang tanah atau lahan yang ada di sekitar makam tersebut dan Bukit Sikenap. Uniknya tanaman pangan terutama palawija sulit ditanam di tempat ini. Sehingga hanya digunakan sebagai tanaman kayu keras, semak dan pandan-pandanan. Sehingga munculah semacam hipotesa bahwa tanah di sekitar tempat ini tidak bisa digarap oleh orang yang bukan keturunan asli si pemilik lahan.
Konon pada jaman dahulu banyak orang berkunjung ke makam ini di bulan-bulan/hari-hari tertentu. Bukan warga sekitar, melainkan orang-orang luar daerah. Sebagian orang tersebut percaya menjadikan makam ini sebagai tempat semedi untuk tujuan tertentu. Jika tujuan mereka berhasil maka mereka akan kembali ke makam ini dan membantu pemugaran/ pembangunan sebagai rasa terima kasih. Atau mereka akan mengadakan selamatan dengan menyembelih ayam jantan berwarna putih, bahkan hingga menggelar wayang kulit!
Paviliun yang berada di dekat tugu masuk juga saya belum mendapatkan informasi pasti. Di dalamnya terdapat seperti makam. Usut punya usut tempat tersebut bukanlah makam. Lalu apa? Sebelum saya bercerita, sebagai informasi keluarga besar saya merupakan pemilik lahan yang berada tepat di belakang dan samping area ini. Jadi kami, saya, sudah tidak asing dengan area ini dari kecil.
Jadi menurut cerita turun temurun dari kakek melalui bapak saya, beliau mengatakan bahwa dahulunya tidak ada makam atau sejenisnya di lokasi tersebut. Legenda yang berkembang bahwa tempat tersebut adalah sebuah tempat beristirahatan para penjaga raja. Ketika sang raja sedang bertapa di lokasi mungkin adalah Makam Sabda Guna saat ini, para penjaga raja ini menunggunya di area paviliun ini.
Legenda ini cukup menarik karena ada kemiripan alur cerita yang dicatat Pemdes soal adanya punggawa raja Mataram yang memiliki penyakit kulit/gatal yang bertapa di makam diatas bukit Sikenap agar diberi pentunjuk penyembuhan penyakitnya. Dan akhirnya diberi petujuk mandi air di sumber air panas yang saat ini dikenal dengan Pemandian Air Panas Krakal, pun dengan mitos suara kuda di versi sumber lain.
Kakek bahkan mengatakan bahwa dahulunya paviliun tersebut hanya terdapat sesaji dan kemenyan belum berupa bangunan seperti saat ini, saat itu hanya tumpukan kecil batu-batuan. Menganggap menupuk batu itu adalah hal wajar yang dilakukan oleh petani saat menggarap lahan, lalu kakek akhirnya mengikuti kebiasaan mengumpulkan (membuang) batu di tempat tersebut hingga akhirya menumpuk.
Rumor dari makam ini selalu berkembang dan mempunyai cerita yang entah dari mana asalnya. Seperti rumor salah seorang warga tak jauh dari area makam ini yang bermimpi ditemui sosok laki-laki tua. Dalam mimpinya sosok tersebut memerintahnya untuk mengganti kelambu di Makam Sabda Guna dengan mengatakan sebuah kalimat yaitu ''Nyolong Nglambu''. Awalnya warga tersebut tidak tahu pasti apa arti dari kata itu, tapi warga tersebut kemudian menuruti permintaan sosok itu.
| Paviliun yang dimaksud |
Cerita yang cenderung tidak masuk akal ini juga pernah dialami oleh keluarga saya, ketika bapak saya membawa pulang sebuah lembaran batu dari lahan kami untuk dijadikan lantai tempat bersuci namun setiap malam hari batu ini selalu mengeluarkan suara berisik berupa ketukan. Takut akan kejadian yang tidak diinginkan sehingga bapak saya kembali membawa batu itu ke asalnya. Pie toh bapak kiii
Demikian sedikit informasi yang bisa disampaikan. Penulis akan terus memperbaharui apa yang kiranya kurang ataupun berlebihan. Makam ini kini menjadi Cagar Benda Budaya oleh Pemkab Kebumen jadi mari kita jaga bersama agar bisa dirawat dengan tujuan yang baik. Sekian.
(Disclaimer: Isi merupakan informasi dari penulis dari sudut pandang sebagai warga sekitar yang akan terus diperbaharui. Informasi yang terdapat di situs ini hanya untuk tujuan informasi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian atau kerusakan yang timbul dari penggunaan informasi di situs ini. Seluruh risiko penggunaan informasi ditanggung oleh pengguna)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar