Kamis, 19 Maret 2015

Banjir Sungai Kedungbener 2014

Banjir Alian 2014
Hallo, jumpa lagi ya kita. Kali ini mau bahas sedikit tentang Sungai Kedungbener. Sungai ini belakangan santer didengar pascabanjir bandang di kecamatan Alian beberapa waktu lalu. Saya sebagai warga kecamatan Alian terutama desa Kalirancang sudah tak asing dengan sungai yang satu ini. Dahulu, sungai ini setia menjadi tempat saya dan juga teman teman saya bermain. Kami biasa bermain pasir ditepian sungai maupun berenang kesana kemanari. 

Ya saat masih duduk di bangku SD, setiap pulang sekolah, saya dan teman teman sering mandi di sungai Kedungbener ini. Tak seperti sekarang, dahulu sungai ini penuh dengan kedung (palung). Palung palung tersebut memilki kedalaman bervariasi sekitar 1 - 5 meter. Airnya sangat jernih. Saking jernihnya setiap kali menyelam akan terlihat lubang lubang kepiting di tebing palung. Dasar Sungai Kedungbener di desa saya berupa pasir bukan batu seperti dihulu (Desa Krakal keatas).

Soal bencana, saya kira sudah biasa Sungai Kedungbener ''marah-marah''. Setiap kali hujan turun sungai ini akan meluap membanjiri bantarannya. Volume air sungai normal dengan saat banjir datang bisa berlipat lipat naiknya. Soal kejadian banjir, Sungai Kedungbener selalu atau mungkin tiap tahun pasti banjir, maksudnya banjir sampai meluber ke bantaran sungai. Setiap musim hujan bisa 3-4 kali sungai ini menggenangi hingga merendam rumah penduduk dan jalan raya.

Banjir Sungai Kedungbener

Nah, untuk kejadian banjir besar yang sampai merendam banyak rumah warga serta banyak memutus akses jalan kecamatan/ dibantarannya saya perhatikan pernah terjadi tahun 2006, 2008, 2010, 2012 dan kemarin (2014). Memang dari dampaknya banjir  tahun ini yang paling parah dari kejadian sebelumnya.

Banjir 2014 merendam ratusan rumah, 10 sekolah serta merusak tanggul-tanggul dibantarannya. Hampir semua desa yang dilintasinya mengalami banjir dengan dampak atau ketinggian bervariasi. Semuanya ada di tiga kecamatan berikut:


  • Kecamatan Karangsambung
  1. Desa Wadasmalang
  2. Desa Plumbon
  • Kecamatan Alian
  1. Desa Krakal
  2. Desa Kalirancang
  3. Desa Sawangan
  4. Desa Wonokromo
  5. Desa Seliling
  6. Desa Surotrunan
  7. Desa Bojongsari
  • Kecamatan Kebumen
  1. Desa Bandung
  2. Desa Candimulyo
  3. Desa Tanahsari
  4. Desa Sumberadi
  5. Desa Rawareja
  6. Desa Wonosari
  7. Desa Jatisari
  8. Desa Mengkowo
Saya mempunyai acuan sendiri jika air banjir sudah masuk ke Mushola (Dusun Kalisetra, Desa Kalirancang, Kecamatan Alian, Kebumen) pasti kejadian banjir tersebut adalah banjir besar. Dan tentunya wilayah atau tempat lain sudah mengalami banjir tinggi. Tahun 2006, 2010, dan kali ini saja banjir bisa masuk ke mushola setinggi 30 cm. Diberitahukan bahwa letak mushola tersebut sudah lebih tinggi dari jalan raya dengan ketinggian 1 meter. Jadi saat banjir kemarin ketinggian ketinggian banjir di jalan raya mencapai 1 meter dan bantaran sungai mencapai 2 meter. 


Peta langganan genangan banjir di Dusun Kalisetra
Di Dusun Kalisetra banjir merendam di tengah dusun (bisa lihat peta). Ditengah dusun itu terdapat sebuah kalen/ sungai kecil yang menjadikan kawasan sekitarnya nampak ''cekungan''. Jika Sungai Kedungbener sedang banjir maka air dari kalen tersebut kerap tertahan dan akhirnya menggenang. Akibatnya banjir semakin menjadi-jadi hingga naik ke jalan raya. Di daerah tersebut rumah warga memiliki pondasi rumah setnggi 1-4 meter dari dasar kalen untuk menghindari air masuk kedalam rumah. 

Banjir selalu akan menggenangi jalan raya di wilayah ini sepanjang 100 meter. 100 meter juga jarak jalan yang menghubungakn Desa Krakal dengan Kota tersebut dengan Sungai Kedungbener di sisi timurnya. Ditambah penyempitan kalen di dusun Kalisetra sangat parah. Kanan kiri kalen kini berupa pondasi rumah warga yang lebih tinggi dari permukaan tanah di bantaran kalen sehingga air tidak leluasa mengalir. Jika banjir besar di kalen ini maka air banjir kerap tertahan di wilayah yang belum terkena pondasi rumah warga. Ibarat orang, air ini harus menunggu, mengantre. Bahkan sebelum air Banjir Kedungbener naik ke jalan kalen ini sudah menggenang terlebih dahulu. Belum lagi kebiasaan buruk warga membuang sampah dikalen.


Denah sederhana jika kalen banjir tapi Sungai Kedungbener tidak
Titik lain di Desa Kalirancang yang ''biasa'' terendam adalah di cekungan menjelang pertigaan jalan alternatif menuju Dusun Kalikudu/ Cagar Benda Budaya makam Sabda Guna. Di titik yang masuk Dusun Jerotengah tersebut lagi-lagi juga karena ada kalen. Sama, di titik tersebut banjir juga menggenang hanya 100 meter saja.

Di sepanjang Dusun Jerotengah banjir juga menggenangi rumah warga. Sementara di Dusun Kedungsemut Kulon banjir tidak pernah sampai ke jalan raya namun hanya merendam rumah warga di bantaran Sungai Kedungbener. Hal yang sama terjadi di Dusun Kedungsemut Wetan dan Gupit. Hanya wilayah yang berada tepat di bantaran sungai yang akan terendam air banjir. Pasalnya dua dusun ini berada di kaki Bukit Pagerijo yang dataran rendahnya lebih sempit daripada dusun lainnya yang berada di sisi barat sungai. 
Tahun 2010, banjir juga demikian parah tapi tidak sampai masuk mushola. Hanya saja akibat derasnya banjir tersebut sebuah jembatan yang menghubungakn Dusun Jerotengah dengan Dusun Kedungsemut Wetan dan Gupit rusak. Pondasinya geser dan menyebabkan pengaman kanan kiri jembatan patah. Beruntung jembatan tak hanyut terbawa air bah. Selain itu beberapa rumah warga rusak. Banjir tahun itu juga mengakibatkan seorang warga luka-luka.

Peta langganan genangan banjir di Desa Kalirancang
Sekarang sungai ini bisa dikatakan sangat memprihatikan. Sedimentari tinggi menjadi masalah yang komplek. Saya mengenal sungai ini dengan sifatnya meliuk liuk. Akibatnya alur sungai sering berpindah dan mengakibatkan erosi. Dahulu alirannya jauh berada di sisi timur mendekati kaki Bukit Pagerijo. Kini (2015) alirannya berada di sisi barat dan makin dekat dengan rumah penduduk. Sedikit demi sedikit tanah di tepiannya tererosi dan ''hilang''.

Sungai Kedungbener berhulu di Pegunungan Sirangkok di perbatasan Kecamatan Karangsambung - Sadang. Aliran sungai ini berakhir di Sungai Luk Ulo yang berada di Lecamatan Buluspesantren, atau sekitar 2 Km dari pantai. Meski berstatus anak sungai, Sungai Kedungbener memiliki DAS sendiri atau biasa disebut Sub-DAS. Sungai Kedungbenr juga memiliki dua anak sungai yang cukup besar. Diantaranya Kali Jaya, Kali Tekung (Kali Kaliputih), Kali Bakung, dan Kali Soka. Semoga saja banjir besar di Sungai Kedungbener tak kembali terjadi. Sungai Kedungbener tetap menjadi sahabat bagi warga di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar